Saat
ini tanggal 27 Mei 2026, sudah hampir 3 tahun yang lalu. Jika aku akhirnya
memposting tulisanku ini, hanya untuk pengingat agar diriku selalu berhati-hati
dalam bertindak, pun tersenyumlah menghadapi dunia nan penuh warna.
Kalau ditanya sekarang kondisinya sudah seperti apa? Yaaa… kuanggap biasa saja.
Karena sekarang si tetanggaku juga kuanggap sudah lebih baik, tidak pernah ngomel
dan menuding-nuding aku lagi (syukur orang tersebut sudah tidak pernah tampak
lagi batang hidungnya). Yang masih adalah, sampah dari tetanggaku yang sering
terbang ke halamanku, kadang sampai masuk ke terasku, kardus-kardusnya juga
sering beterbangan ke depan rumah, hingga depan rumahku tak pernah terlihat bersih,
but… it’s ok, ini tidak masalah buatku. Yang penting, aku tetap menjaga sikap
sikap…
Tulisanku yang dulu:
Tangerang, 19 Agustus 2023
Yth Ketua RW 07 Perumahan Alam Indah,
Bapak Ali Rahmat
Di tempat
Assalamualaikum W. W
Saya Dyah Sinto Rini, warga perumahan
Alam Indah A2 No 6 RT 04 RW 07, dengan ini menyatakan bahwa pada hari Sabtu tanggal
8 Juli 2023 pukul 11.00 WIB, “SAYA
TELAH MENDAPAT PERLAKUAN TIDAK MENYENANGKAN” dari tetangga sebelah kanan
rumah saya.
Kronologisnya
adalah sebagai berikut:
Saya
bersama anak laki-laki saya baru saja turun dari mobil dan mau masuk rumah,
keadaan gerbang rumah saya terkunci dan ada anak perempuan saya di dalam
rumah.
Saya menelepon anak perempuan saya, yang
ternyata ketiduran di dalam rumah, maka saya agak kencang memanggilnya. Saya
mengatakan bahwa, ‘Wuk, cepat bukakan, Mama tidak kuat baunya’, karena memang
tempat saya membuka gerbang pas dengan tumpukan bekas kotak telur warung
sebelah.
Tiba-tiba tetangga sebelah rumah saya,
entah saya tidak tahu namanya karena saya sebelumnya baru melihatnya satu kali,
dia tinggal di situ, marah-marah dan mengatakan, “Ini tidak bau, Ibu tidak usah
macam-macam”.
Yang saya alami berikutnya adalah, dia
menuding-nuding saya pakai tangannya, membentak-bentak saya dengan sangat
keras, bahasanya SANGAT KASAR, yang saya ingat adalah bahasa Jawa “CANGKEM,
COCOT”, ditujukan ke saya.
Dia sampai membawa-bawa nama suami saya
dan pendidikan saya. Sedihnya adalah dia mengatakan “PANTESAN SUAMI IBU
MENINGGAL, DIA STRES MIKIRIN IBU”.
Ini yang membuat anak laki-laki saya
marah, Ayahnya yang sudah tenang beristirahat di alam sana, dia bawa-bawa, dia
katakan STRES. Tetanggan saya itu tidak pernah tahu/ berhubungan/ kenal dengan
suami saya, dia tidak pernah tahu kebahagiaan kami seperti apa, tapi dia berani
mengatakan bahwa SUAMI SAYA MENINGGAL KARENA STRES MEMIKIRKAN SAYA. Dari dalam
mobil anak saya bilang, “Pak, jangan bawa-bawa Ayah saya”.
Saya benar-benar tidak bisa menerima
diperlakukan sangat kasar oleh orang laki-laki, dengan bentakan sangat kencang,
sangat tidak manusiawi. SEUMUR-UMUR, ALHAMDULILLAH SAYA TIDAK PERNAH
DIPERLAKUKAN KASAR.
Anak saya pun tidak terima Mamanya
dibentak-bentak dengan kasar.
Sampai-sampai tetangga tadi mendatangi
anak saya yang masih berada di mobil dan kembali menuding-nuding, “Ibu kamu orang pendidikan, kok
gitu, jangan mentang-mentang berpendidikan, bisa macam-macam”.
Sampai ada orang lain ikut mendorong
tetangga yang ngomel ke anak saya itu. Cik Mei mie ayam dan suaminya mendorong
tetangga itu agar berhenti, tidak ngomel lagi.
Selain Cik Mei dan suaminya, ada juga
saksi lain yang kebetulan lewat dan mengenal saya dan anak saya, ikut berhenti
dan melihat kejadian ini.
Saya hanya sedih diperlakukan seperti itu
seraya mengelus dada dan mengucap, “Astagfirullahaladhim, naudzubillahi min
dzalik, innalillahi wainna ilaihi rajiun”, begitu terus berulang-ulang.
Sebelumnya saya pernah berhubungan dengan tentangga
itu, yaitu saat dia memaku dinding dan mengebor rumahnya dengan sangat kencang,
di mana itu langsung berbatasan dengan kamar saya, dan ini dilakukannya
malam-malam di saat harusnya kita bisa istirahat dengan nyaman di rumah. Saya
akhirnya datang ke rumah dia dan menegurnya, saya minta tolong jangan mengebor
malam-malam, kalau siang tidak apa-apa. Dia menjawab bahwa “Ini belum jam 9, di
mana-mana saya bekerja jam kerjanya selalu sampai jam 9 malam, Ibu jangan
aneh-aneh, ini masih jam kerja”. Akhirnya saya diamkan saja. Saya punya rekaman
dia saat mengebor. Saya melaporkan hal ini ke Pak RT, dan beliau bilang sudah
didatangi dan sudah selesai. Jadi meskipun beberapa kali tetangga itu masih
mengebor dan memaku-maku dinding dengan kencang di malam hari, saya mengalah,
saya diamkan.
Orang tersebut, saya kira bukan tinggal di
situ, karena saya jarang melihatnya, jadi baru saat memaku dan mengebor itu
saya mengetahui ada dia, bukan orang-orang yang biasa menjaga warung.
Saya telah menanyakan kepada Kakak saya
yang hakim di Pengadilan Negeri Tangerang dan teman saya di Kejaksaan Negeri
Tangerang, ini termasuk pasal “PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN”.
Sebagai langkah awal, saya melaporkan
perlakuan tidak menyenangkan ini kepada Ketua RT (saya tidak sebut namanya) melalui
media WhatsApp (WA). Namun, chat saya hanya dibaca, tanpa respon sama sekali,
dan ini yang membuat saya prihatin, Ketua RT saya ternyata tidak peduli dengan
laporan/ keadaan warga. Berikut saya screenshot bukti chat WA-nya:

Saya sabar menunggu respon Pak RT, namun
tidak ada balasan, seminggu, dua minggu hingga lima minggu lebih terlewat
begitu saja. Saya pikir, mungkin ini dianggap bukan hal penting. Saya berfikir,
Beliau tidak memahami posisi saya sebagai single parent yang sendirian dan
harus memperjuangkan hak dari dihina dan dikasari oleh orang lain.
Saya punya banyak media sosial, namun saya
tahan untuk memposting permasalahan ini ke media-media sosial saya, meskipun
saya punya banyak bukti perlakuan tetangga itu kepada saya. Saya juga ingin
mengirimkan pernyataan saya ini ke grup WA Kebersamaan Blok A, namun saya
urungkan, dengan tujuan saya masih menunggu respon Pak RT.
Karena lama tidak direspon, saya akhirnya
mengobrol lewat Bu RT, saat selesai mengaji bersama, Bu RT berjanji akan
menyampaikan ke suaminya.
Lama saya tunggu, tak datang jua respon/
tanggapan dari Pak RT.
Anak laki-laki saya sering menanyakan
kelanjutan kasus ini. Saya memahami, anak mana yang tidak tersinggung, Mamanya
diperlakukan sangat kasar, bahkan Ayahnya yang telah meninggal disebut-sebut
STRES gara-gara memikirkan Mamanya.
Saya sudah lama ingin melaporkan hal ini
ke Bapak Ketua RW, namun saya mendengar bahwa Ibu RW sedang sakit, jadi saya
tahan dulu. Selain itu, saya masih menunggu niat baik Pak RT untuk
‘mendengarkan’ keluhan warganya.
Saya memutuskan untuk menulis surat
pernyataan ini karena saya melihat anak saya yang merasa kecewa karena Mamanya
mendapat perlakuan tidak menyenangkan (beberapa kali) dari tetangga, dan juga
mendapat perlakuan tidak didengar keluhannya oleh pimpinan perumahan tempat
kami tinggal.
Saat saya menulis ini, di pos warga sedang
ada peringatan HUT kemerdekaan RI, saya yang biasanya aktif di kegiatan RT/ RW
bersama ibu-ibu lain, saya sengaja TIDAK MAU BERPARTISIPASI, baik pada
lomba-lomba, pun saat peringatan puncaknya sekarang ini.
Anak laki-laki saya mengatakan, tidak ada
respek/ hormat lagi kepada Pak RT karena tidak mau memperhatikan/ merespon
permasalahan warganya. Dia melarang saya aktif di kegiatan RT. Anak saya
mengatakan bahwa lebih hormat dengan Ketua RT yang dulu, karena cepat tanggap
dan mau membantu warga, sebelumnya kami memang pernah merasakan bantuan/
kepedulian Ketua RT yang lama, yang lebih peduli kepada kami.
Anak saya berkeinginan untuk diadakan
pertemuan 3 pihak. Saya, tetangga saya dan Ketua RT. Ini sudah saya sampaikan
ke Pak RT, namun seperti yang sudah saya tulis, tidak pernah direspon.
Beberapa permasalahan yang saya hadapi
terkait dengan tetangga saya ini, seperti sampah di rumah sebelah, bekas telur
dan lainnya yang tepat di gerbang rumah tempat saya membuka pagar rumah saya,
sangat mengganggu, sampah sering terlempar ke depan rumah saya (yang ini tidak
pernah saya permasalahkan).
Berikut saya sertakan gambar-gambarnya:
-
Selanjutnya, tentang pinggir jalan di
depan rumah saya, dulu saya pernah dikomplain oleh pemilik warung tersebut
(Bapak Madura), saat saya terganggu memasukkan mobil ke garasi rumah karena ada
kendaraan pembeli warung tersebut yang parkir, Beliau mengatakan bahwa “Namanya
depan rumah itu adalah milik umum, bukan milik Ibu (saya), jadi siapa saja
boleh memakainya”, termasuk pembeli warungnya. Saya pernah dilabrak istri Bapak
Madura dan dikasari juga sambil diteriaki, saya hanya diam saja, sambil
bertanya dia maunya apa, namun karena dia bicaranya kasar dan keras, saya tidak paham, dan saya biarkan saja.
-
Ini gambaran parkir kendaraan di depan
rumah saya yang sangat sering terjadi, namun sekali lagi, kalau yang ini, saya tidak pernah mempermasalahkan:
Oh ya, untuk bukti dukung berupa rekaman suara di saat memaku dan mengebor, video saat kejadian saya dituding-tuding, dan foto-foto nyampah di depan rumah, saya save dalam satu folder, jadi saya punya bukti bahwa saya tidak mengada-ada, dan yang saya alami adalah nyata. (Sebagian sudah saya tunjukkan ke Bapak RT).
Bapak RW, saya ingin sampah di warung
tersebut jangan diletakkan tepat di pinggir kiri di mana ini tepat dengan tempat
saya membuka gerbang. Saya selama 4 tahun berjuang sebagai ODAPUS (orang dengan
sakit lupus), jadi saya harus benar-benar menjaga diri, termasuk kebersihan,
agar saya tidak terkena sakit lupus lagi.
Bapak RW yth, saya mohon kasus saya ini
ditindaklanjuti. Karena saya tidak pernah mengganggu tetangga saya, saya tidak
pernah merepotkan mereka, bahkan saya sering direpotkan karena otomatis kena
sampahnya, otomatis parkiran depan rumah sering dipakai, sering sekali ramai/
berisik. Saya selalu memasukkan mobil ke dalam garasi, jadi depan rumah selalu
lega. Saya tidak pernah mempermasalahkannya, yang penting saya bisa keluar/
masuk rumah saat saya perlu, hanya itu. Saya pun jika di rumah, lebih sering
tinggal di dalam rumah, tanpa pernah mengganggu/ merecoki siapa pun di warung tersebut.
Saya amati, saya merasa sekarang tetangga
saya ini, Bapak Madura dan yang lain yang tinggal di warung ini sudah tidak ada
masalah. Mereka sudah lebih respek (ada rasa menghormati) ke saya dan anak-anak
dibandingkan dulu, ini terlihat dari kejadian misalnya saat saya pulang dan mau
masuk ke garasi, jika ada yang menghalangi, mereka langsung memindahkannya.
Yang saya heran, tetangga yang memperlakukan saya kasar di awal saya tulis, entah
dia itu yang punya warung, atau tukangnya, atau siapanya, saya tidak tahu
pasti, tetapi sering saya lihat tidak pernah ramah kepada saya.
Bapak RW, mohon kebijakannya untuk
ditindaklanjuti. Saya dan anak saya sabar menunggu.
Atas perhatian Bapak RW, saya ucapkan terima
kasih.
Semoga Bapak RW dan keluarga sehat selalu
dan lingkungan perumahan Alam Indah tetap nyaman dan aman.
Wassalamualaikum
W. W
Hormat
saya,
DYAH
SINTO RINI
Warga
Alam Indah